Sentimental Value Review: Drama Ayah–Anak di Balik Layar Cannes 2024
swedishtarts.com – Sentimental Value review tahun ini terasa istimewa karena lahir dari denyut festival film terbesar, Cannes 2024. Di tengah gegap gempita karpet merah, film ini justru memilih berbisik pelan tentang hubungan ayah–anak. Bukan sekadar drama keluarga, melainkan potret rapuhnya orang dewasa ketika panggung mulai sepi, sorot lampu meredup, lalu hanya tersisa satu penonton paling penting: anaknya sendiri.
Melalui Sentimental Value, sutradara membongkar dinamika keluarga publik figur yang jarang tersorot media. Film tersebut mengajak penonton menyaksikan benturan ego karier, harga diri, serta kebutuhan emosi sederhana: diakui dan dicintai. Sentimental Value review berikut menelusuri detail narasi, pilihan artistik, hingga makna personal yang merembes di sela-sela adegannya, sambil mencoba menjawab satu pertanyaan: seberapa mahal harga kehangatan keluarga ketika reputasi jadi mata uang utama?
Sentimental Value Review: Dari Cannes ke Ruang Tamu Kita
Sentimental Value review tidak bisa dilepaskan dari konteks Cannes 2024. Di festival penuh film ambisius, karya ini hadir seperti jeda sunyi. Tidak mengandalkan efek besar, film memilih mendalami percakapan sederhana. Seorang aktor senior yang mulai meredup kembali dipertemukan dengan putranya, yang tumbuh dengan reputasi ayah sebagai bayang-bayang panjang. Pertemuan itu memantik serangkaian momen canggung, lucu, sekaligus menyakitkan.
Keunggulan film terlihat pada cara ia memotret jarak emosional tanpa dialog berlebihan. Kamera sering berhenti cukup lama pada raut wajah lelah sang ayah, serta tatapan ragu anak yang kesulitan menyusun kalimat. Sentimental Value review menyoroti keberhasilan sutradara mengubah keheningan menjadi bahasa. Di banyak adegan, penonton dibiarkan menerka isi hati tokoh melalui gerak kecil: tangan yang tertahan, kursi yang digeser, pintu yang hampir tertutup.
Dari sisi tema, film tidak berusaha menggurui. Konflik ayah–anak muncul alami, lahir dari luka kecil yang diabaikan bertahun-tahun. Kesibukan karier, jadwal syuting, konferensi pers, semua menumpuk menjadi alasan. Sentimental Value review menemukan kekuatan cerita justru pada detail keseharian. Koper terbuka berisi kostum panggung, foto keluarga terselip di saku jas, tiket pesawat yang tak pernah digunakan untuk pulang. Detail itu mempertebal rasa bersalah, tanpa perlu monolog panjang.
Dramaturgi Ayah–Anak: Ketika Panggung Menjadi Cermin
Sentimental Value review terasa menarik karena film ini menempatkan dunia pertunjukan sebagai metafora hubungan keluarga. Sang ayah terbiasa membaca naskah, menghafal dialog, memerankan karakter. Namun ketika berhadapan dengan putra sendiri, semua keahlian panggung terlihat sia-sia. Ucapan maaf terdengar lebih sulit dibanding dialog drama klasik. Di sini, panggung menjadi cermin. Ia memantulkan kepalsuan yang tak sengaja terbentuk sepanjang karier.
Konflik utama muncul ketika keduanya terlibat dalam proyek kecil, semacam pertunjukan atau sesi latihan bersama. Latihan itu menyatukan mereka di ruang tertutup, tanpa wartawan, tanpa penggemar. Sentimental Value review mencatat bahwa bagian ini menjadi titik balik emosional. Anak mulai menyadari betapa besar ketergantungan ayah pada tepuk tangan publik. Sementara sang ayah pelan-pelan mengerti bahwa penonton paling sulit ditaklukkan ternyata duduk tepat di hadapannya.
Dari sudut pandang pribadi, saya melihat film ini tajam sekaligus lembut. Ia mengkritik budaya selebritas yang menjadikan keluarga sekadar latar belakang foto. Namun kritik tersebut dibungkus empati. Tidak ada tokoh sepenuhnya jahat atau sepenuhnya benar. Sentimental Value review menyoroti cara film menolak memberi penilaian hitam putih. Semua orang tampak berusaha, meski terlambat, meski kaku, meski caranya salah. Justru di situlah film terasa manusiawi.
Seni Menyentuh Tanpa Menggurui
Salah satu hal terkuat dalam Sentimental Value review ini terletak pada penilaian terhadap gaya penceritaan. Film memilih atmosfer tenang, ritme lambat, serta dialog ekonomis. Beberapa penonton mungkin menganggapnya terlalu pelan, namun ritme itu memberikan ruang refleksi. Penonton diajak menatap kembali hubungan pribadi sendiri, terutama dengan orang tua. Tidak ada jawaban instan, tidak ada resolusi rapi. Film berakhir pada kemungkinan, bukan kepastian. Bagi saya, itulah bentuk kejujuran paling berharga dari sebuah karya yang berbicara tentang nilai sentimental: ia tidak menutup luka, tetapi mengajarkan cara menatapnya tanpa lari.